Wednesday, May 25, 2011

Ragam dan Manfaat Menyimak

Ragam Menyimak
Kegiatan menyimak mempunyai bentuk yang beraneka ragam. Ragam menyimak menurut Sutari, dkk (1997: 28-33),  diklasifikasikan berdasarkan sumber suara, taraf aktifitas menyimak, taraf hasil simakan, cara penyimakan, bahan simakan, tujuan menyimak, dan tujuan spesifik. Berdasarkan sumber suara yang disimak, terdapat dua ragam menyimak, yaitu menyimak intrapribadi dan menyimak antarpribadi. Menyimak intrapribadi adalah suara yang disimak berasal dari diri sendiri, sedangkan menyimak antarpribadi adalah menyimak suara yang berasal dari orang lain.
Berdasarkan taraf aktifitas menyimak dibedakan atas kegiatan menyimak taraf rendah dan taraf tinggi. Menyimak bertaraf rendah disebut silent listening. Menyimak taraf rendah hanya memberikan perhatian, dorongan dan menunjang pembicaran. Sedangkan menyimak taraf tinggi disebut  active listening. Menyimak taraf tinggi biasanya diperlihatkan penyimak dengan mengutarakan kembali isi simakan. Berdasarkan taraf hasil simakan terdapat beberapa ragam menyimak. Pertama, menyimak terpusat. Menyimak ini harus memusatkan pikiran agar tidak salah melaksanakan hasil simakannya itu. Kedua, menyimak untuk membandingkan. Penyimak menyimak pesan tersebut kemudian membandingkan isi pesan dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak relevan. Ketiga, menyimak organisasi materi. Yang dipentingkan oleh penyimak adalah mengetahui organisasi pikiran yang disampaikan pembicara, baik ide pokoknya maupun ide penunjangnya. Keempat, menyimak kritis. Penyimak melakukan menyimak secara kritis dengan cara menganalisis pesan yang disimaknya untuk kejelasan penyimak meminta data lebih lengkap tentang hal yang dikemukakan pembicara. Kelima, menyimak kreatif dan apresiatif. Penyimak ini memberi reaksi lebih jauh terhadap hasil simakannya dengan memberi respon setelah penyimak memahami dan menghayatinya betul pesan itu ia memperoleh informasi yang dapat melahirkan pendapat baru sebagai hasil kreasinya. Berdasarkan cara penyimakan, ada dua ragam menyimak. Pertama, menyimak intensif. Penyimak ini melakukannya dengan penuh perhatian, ketekunan dan ketelitian sehingga memahami secara mendalam dan menguasai secara luas bahan simakannya. Yang termasuk ke dalam menyimak intensif adalah: menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif,  menyimak interogatif, dan menyimak selektif. Kedua, menyimak ekstensif. Penyimak hanya memahami secara garis besar.
Menyimak ekstensif meliputi: menyimak sekunder, menyimak estetik, dan menyimak sosial Berdasarkan tujuan menyimak, dapat dibedakan menjadi enam jenis. Pertama, menyimak sederhana. Menyimak sederhana  terjadi dalam percakapan dengan teman atau percakapan melalui telepon. Kedua, menyimak deskriminatif. Menyimak untuk membedakan suara atau perubahan suara. Ketiga, menyimak santai. Menyimak santai adalah menyimak untuk tujuan kesenangan. Keempat, menyimak informatif adalah menyimak untuk mencari informasi. Kelima, menyimak literature. Menyimak untuk mengorganisasikan gagasan. Keenam, menyimak kritis. Menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara. Berdasarkan tujuan khusus, Logan dan kawan-kawan (dalam Sutari, dkk 1997: 32-34), mengklasifikasikan menyimak  menjadi beberapa jenis. Pertama, menyimak untuk belajar. Melalui kegiatan menyimak seseorang mempelajari beberapa hal yang dibutuhkan. Kedua, menyimak untuk menghibur. Penyimak menyimak sesuatu untuk menghibur dirinya. Ketiga, menyimak untuk menilai. Penyimak mendengarkan dan memahami simakan, kemudian menelaah, mengkaji, menguji, membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan banyak. Keempat, menyimak apresiatif. Penyimak memahami, menghayati, mengapresiasi  materi simakan. Kelima, menyimak untuk mengkomunikasikan ide dan perasaan. Penyimak memahami, merasakan gagasan, ide, perasaan pembicara sehingga terjadi sambung rasa antara pembicara dan pendengar. Keenam, menyimak deskriminatif. Menyimak untuk membedakan suara atau bunyi. Ketujuh, menyimak pemecahan masalah. Penyimak mengikuti uraian pemecahan masalah secara kreatif analitis yang disampaikan oleh pembicara. Tarigan (1994: 35-40), membagi menyimak menjadi dua jenis yaitu:  (1) menyimak ekstensif, (2) menyimak intensif.
Pertama, menyimak ekstensif. Menyimak  ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran. Adapun kegiatan menyimak ekstensif, antara lain menyimak sosial, menyimak estetika, menyimak sekunder,  dan menyimak pasif. (a) menyimak sosial, biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol, seperti di pasar, sekolah, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya. (b) menyimak estetika, sering disebut menyimak apresiatif. Menyimak estetika adalah kegiatan menyimak untuk menikmati dan menghayati sesuatu, misalnya menikmati cerita, puisi, menyimak musik atau radio. (c) menyimak sekunder adalah menyimak secara kebetulan. Menyimak pada musik yang mengiringi ritme-ritme dan pada acara radio yang terdengar sayup-sayup sementara kita sedang menulis surat pada seorang teman di rumah. (d) menyimak pasif adalah menyimak suatu ujararan tanpa upaya sadar, misalnya dalam kehidupan sehari-hari pembelajar mendengarrkan bahasa Jawa, setelah dalam waktu 3 tahun ia sudah mahir menggunakan bahasa tersebut. Kemudian menggunakan bahasa Jawa tersebut dilakukan tanpa sengaja. Kedua, menyimak intensif. Menyimak intensif adalah sejenis kegiatan menyimak yang diarahkan kepada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu.
Adapun jenis-jenis menyimak intensif antara lain menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak eksploratif, menyimak interogatif, dan menyimak selektif. (a) menyimak kritis  adalah kegiatan menyimak untuk mencari kesalahan dari ujaran seseorang pembicara secara sungguh-sunguh, dengan alasan-alasan yang kuat yang dapat diterima oleh  akal sehat, serta dinilai secara objektif, menentukan keaslian kebenaran dan keahlain serta kekurangan. (b) menyimak konsentratif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang diperdengarkan. (c) menyimak kreatif adalah kegiatan  menyimak yang sengaja dilakukan untuk menyenangkan rekonstruksi imajinasi dan perasaan kinaestetik para penyimak. (d) menyimak eksplorasif adalah kegiatan menyimak bertujuan untuk menyelidiki sesuatu lebih terarah dan lebih sempit. (e) menyimak interogatif adalah kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh  informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pemeroleh informasi. (f) menyimak selektif adalah menyimak yang dilakukan secara selektif dan terfokus berdasarkan nada suara, bunyi-bunyi asing, bunyi-bunyi yang bersamaan, kata-kata dan frase-frase, bentuk-bentuk ketatabahasaan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ragam menyimak dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan sumber suara, taraf aktifitas menyimak, taraf hasil simakan,  cara penyimakan, bahan simakan, tujuan menyimak, tujuan spesifik, bentuk kegiatan menyimak.

Manfaat Menyimak
Banyak manfaat yang dapat kita peroleh dengan memiliki keterampilan ini. Menurut Setiawan, manfaat menyimak adalah sebagai berikut ini.
Pertama, menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemampuan siswa, sebab menyimak mempunyai nilai  informatif, yaitu memberikan masukan pada kita agar  lebih berpengalaman. Kedua, meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan khazanah ilmu kita. Ketiga, memperkaya kosakata kita, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu dan puitis. Komunikasi menjadi  lebih lancar dan kata-kata yang digunakan lebih variatif jika orang banyak menyimak. Keempat, memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup serta membina sifat terbuka dan objektif. Orang cenderung lebih lapang dada, dapat menghargai pendapat dan keberadaan orang  lain, tidak picik, tidak sempit lapang dada, tidak fanatik kata jika orang  banyak menyimak. Kelima, meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial. Lewat menyimak kita bisa mengenal seluk-beluk kehidupan dengan segala dimensinya. Kita dapat merenungi nilai kehidupan jika bahan yang disimak baik sehingga tergugah semangat kita untuk memecahkan masalah. Keenam, meningkatkan citra artistik,  jika yang kita simak itu merupakan bahan yang isinya semakin halus dan bahasanya indah. Banyak orang yang menyimak dapat menumbuhsuburkan sikap apresiatif, sikap menghargai karya orang lain serta meningkatkan selera estetis kita. Ketujuh, menggugah kreativitas dan semangat mencipta agar kita mampu menghasilkan ujaran-ujaran dan tulisan-tulisan yang berjati diri. Dengan menyimak kita mendapatkan ide-ide yang cemerlang dan segar, serta pengalaman hidup yang berharga. Semua itu akan mendorong kita agar giat berkarya dan kreatif.

Daftar Bacaan
Sutari, dkk. 1997. Menyimak. Jakarta: Depdikbud.
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung: Angkasa.



Artikel Terkait:


0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkenan membaca tulisan kecil ini, semoga bermanfaat. Jangan lupa beri komentar untuk memperbaiki isi blog ini.
Salam sahabat dan sejahtera.....

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution